29 Jan 2010

Mahasiswa Kalteng Tuntut SBY-Boediono Mundur

Aksi Memperingati Seratus Hari Pemerintahan SBY-Boediono

Laporan: Alfrid U

PALANGKA RAYA-
Memperingati seratus hari pemerintahan SBY-Boediono, ratusan mahasiswa dari berbagai elemen di Kota Palangka Raya menggelar aksi parlemen jalanan. Mereka menuntut Presiden dan Wakil Presiden, Susilo Bambang Yodhoyono (SBY)- Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani mundur dari jabatanan.
Slain itu, massa juga melakukan aksi membakar bendera Partai Demokrat dan foto Presiden SBY. Pembakaran ini sebagai bentuk protes mahasiswa terhadap pemerintahan SBY yang dinilai gagal menuntaskan berbagai persoalan, seperti kasus Bank Century dan pemberantasan mafia kasus (markus) dalam program 100 hari.
Pembakaran bendera Partai Demokrat yang diikuti pelemparan telur busuk itu dilakukan para pendemo dari bergai organisasi mahasiswa, yakni Badan Eksekutif Mahasiswa Unpar, BEM STMIK, PMKRI, PMII , dan GMKI Palangka Raya. Mahasiswa menganggap partai tersebut menjadi simbol kekuatan politik yang menjalankan roda pemerintahan saat ini, serta belum berhasil menyejahterakan rakyat.
Sebelum tiba di Bundaran Besar depan Istana Isen Mulang sebagai titik pemberhentian melakukan orasi. Massa bergerak dengan berjalan kaki dari Kampus Universitas Palangka Raya (Unpar), membawa panji-panji organisasi sambil menerikakan “yel-yel” menuntut presiden, wakil presiden dan Menteri Keuangan mundur dari jabatannya.
Ketua BEM Unpar Trisinto Cara dalam orasinya menyatakan bahwa pemerintahan baru saat ini tidak berhasil menegakkan supremasi hukum dan keadilan di depan hukum dengan mencuatnya sejumlah kasus mafia hukum.
“SBY juga gagal memberantas korupsi di Bumi Indonesia dalam program 100 harinya. SBY juga meruntuhkan kepercayaan masyarakat atas upaya kriminalisasi KPK tahun lalu,” ucap Trisinto.
Selain itu, Trisinto mengungkapkan, pemerintahan SBY juga gagal dalam penegakkan ekonomi kerakyatan. Hal ini ditandai dengan kegelisahan masyarakat seiring
ketidaksiapan Negara menghadapi perjanjian ACFTA 2010 atau perjanjian perdagangan bebas dengan Cina.
Selain mengecam pemerintah, Trisinto juga mengecam ulah anggota DPR yang saat ini justru sibuk memainkan kepentingan politiknya serta meributkan persoalan pemakzulan dibandingkan mengurusi persoalan lain yang ada.
Pantauan Radar Sampit, selama aksi berlangsung, kendati sempat membuat lalu lintas di kawasan bundaran besar macet. Namun, aksi pembakaran dan pelemparan telur busuk oleh para demonstrasi ini berlangsung aman dan lancar di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian. (*/Radar Sampit)

Tidak ada komentar: