27 Agu 2012

 
KUALA KURUN - Bupati Gunung Mas (Gumas) Hambit Bintih mengingatkan, masyarakat di wilayah Kabupaten Gumas agar jangan cuma mengandalkan usaha dari perkebunan karet. Dia menyarankan, mulai sekarang, sebaiknya masyarakat harus mencari usaha alternatif lain untuk meningkatkan perekonomian keluarga untuk lebih baik lagi. Peringatan orang nomor satu di bumi 'Habangkalan Penyang Karuhei Tatau' itu bukan tanpa alasan. Jika hanya andalkan karet, bisa-bisa masyarakat tidak makan. Karena harga sejumlah kebutuhan pokok terus merangkak naik. Sementara harga jual karet terus mengalami penurunan, seiring terjadinya resesi ekonomi di Eropa yang belum juga membaik hingga saat ini, sejak beberapa bulan lalu. "Negera-negara di Eropa sekarang terjadi krisis ekonomi. Akibatnya harga jual karet anjlok di pasar internasional. Masyarakat jangan andalkan karet saja, bisa-bisa tidak makan. Masyarakat harus punya usaha alternatif, sambil menunggu harga karet kembali membaik," tukas Hambit, saat menggelar dialog dengan masyarakat Kecamatan Rungan Barat dan sekitarnya, Senin (23/7) lalu. Menurut bupati, masih banyak potensi ekonomi yang menjanjikan di masa akan datang, namun belum banyak masyarakat menggelutinya, yaitu usaha di bidang perkebunan kelapa sawit, mengingat lahan di wilayah itu cukup luas dan kosong. "Masyarakat hanya siapkan lahan, untuk bibit menanam dan mengurusnya masyarakat bermitra dengan perusahaan melalui koperasi," saran bupati. Usaha lain yang juga menjanjikan, lanjut bupati, masyarakat jangan lagi mengandalkan semua kebutuhan sayur mayur mengandalkan pedagang dari luar. Mulai saat ini masyarakat harus mampu mengelola pekarangan yang kosong jadi tempat menanam sayur-mayur. "Sayur saja kita harus membeli dari pedagang pendatang. Pekarangan luas, coba kita tanam, setidaknya untuk kebutuhan keluarga. Bila lebih, baru dijual dan pasti laku," imbuh bupati. Pada kesempatan itu, bupati juga mengingatkan masyarakat yang berusaha di bidang pertambangan rakyat agar tidak menambang di jalur sungai yang menjadi sumber air minum masyarakat. Selain itu juga dilarang menambang yang bisa mengancam atau merusak fasilitas umum, seperti jalan dan jembatan. Seperti yang terjadi di beberapa daerah, jembatan runtuh akibat penambangan. "Masih diberi toleransi bagi masyarakat untuk menambang, asalkan tidak di jalur sungai. Mengingat sungai merupakan sumber air minum masyarakat. Jika sungai ikut tercemar, maka masyarakat yang meminum air dari sungai juga menerima dampaknya bagi kesehatan. Terutama dampak dari mercury yang sangat membahayakan bagi kesehatan untuk jangka panjang," tandas bupati. Untuk diketahui, Januari-Maret lalu harga karet di wilayah hulu Kabupaten Gumas bertahan di Rp 10-13 ribu per kilogram. Sekarang terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp 6-7 ribu per kilogram. Tahun 2011 lalu harga karet relatif baik hingga mencapai Rp 15 ribu per kilogram. (alf)

Tidak ada komentar: