14 Sep 2009

Walhi Gandeng Radar Sampit Selenggarakan Diskusi RSPO

Laporan: Alfrid U

PALANGKA RAYA-
Pasar minyak sawit Indonesia akan semakin tertutup disaat pengelolaan perkebunan sawit Indonesia sebagian besar tidak memenuhi prinsip dan kriteria minyak sawit berkelanjutan (sustainable palm oil) yang telah disepakati oleh berbagai pihak dalam pertemuan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Menurut Direktur Eksekutif Walhi Kalteng Arie Rompas, para pembeli dan distributor terbesar produk menggunakan minyak sawit telah memiliki komitmen kuat untuk pemenuhan prinsip dan kriteria tersebut. Termasuk para bank pemberi pinjaman. Bila sudah seperti ini, apakah ada perusahaan perkebunan kelapa sawit dan pengolah minyak sawit Indonesia yang memenuhi prinsip dan kriteria tersebut?
“Untuk mencapai sustainable palm oil ada 8 prinsip dan 39 kriteria yang harus dipenehuhi para industri kelapa sawit di Indonesia. Inilah yang kita pertanyakan dalam diskusi panel nanti,” ujarnya kepada Radar Sampit di Palangka Raya, Kamis (10/9) kemarin.
Dikemukakannya, di Indonesia sendiri, saat ini telah tercatat 5 perusahaan besar yang sudah mendapatkan sertifikasi RSPO, yaitu Musim Mas Group, Wilmar Group, London Sumatera, Hindoli, dan Sinar Mas Group. Sementara di Kalteng yang telah mendapatkan dan sedang mengajukan sertifikasi RSPO, seperti Musi Mas, Wilmar group, Simedarby, UP (United Plantation) Sinar Mas, dan IOI.
“Mengingat keberadaan perusahan-perusahan tersebut berada di wilayah Kotawaringin. Inilah menjadi pilihan, kenapa menggandeng Radar Sampit sebagai mitra kerja, penyelenggaraan diskusi ini,” ungkap pria asal Sulawesi Utara, yang akrap disampa Rio ini.
Rio berharap industri perkebunan kelapa sawit yang masuk dalam anggota RSPO bisa ambil bagian didalam acara diskusi. Mengingat acara tersebut sebagai bagian dari sosialisasi RSPO, dan anggotanya yanga ada Kalteng. “Publik akan bertanya sejauh mana para industri perkebunan sawit bisa memenuhi komitmennya menerapkan 8 prinsip dan 39 kriteria, sustainable palm oil,” imbuh Rio.
Pasca meningkatnya harga minyak sawit di pasaran dunia dan akibat isue biofuel sebagai salah satu energi alternatif pengganti energi fosil yang mulai menipis, industri kelapa sawit di Indonesia khususunya di Kalteng menunjukan pertumbuhan yang positif.
Akan tetapi konsekuensi dari meningkatnya pertumbuhan industri sawit, disadari atau tidak akan muncul problem lingkungan, terutama disektor hulu, akibat dari pembukaan hutan untuk lahan perkebunan kelapa sawit tanpa memperhatikan kelestarian dan keberlanjutannya.
“Selain itu konflik tanah dan dampak sosial yang diakibatkan oleh industri ini mulai menjadi ancaman serius dikarenakan menciptakan kecenderungan potensi konflik atas pengelolaan kawasan dan kesejahteraan buruh diperkebunan,” beber Rio.
Terpisah, Pemimpin Redaksi Radar Sampit, Ajid Kurniawan, S.Hut, kepada panitia pelaksana, menyambut postif kegiatan yang digagaskan Walhi Kalteng tersebut.
Meski demikian, masuknya Radar Sampit sebagai bagian dari penyelenggara, bukan berarti Radar Sampit bisa di intervensi dari pihak manapun, termasuk Walhi.
Penegasan orang nomor satu dijajaran redaksi tersebut untuk mengcounter bila ada opini miring berkembang. “Sebagai media yang independen mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi, yang tentunya berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum,” tegasnya.
Lebih lanjut Ajid Kurniawan, menjelaskan, fungsi Radar Sampit hanya sebatas Event Organizing (EO) yang melaksanakan sesuai kerangka acuan yang di sampaikan Walhi Kalteng sebagai penggagas kegiatan.
Adapun peserta diskusi yang diundang, sesuai kerangka acuan dari Walhi, diantaranya 3 dinas dan 2 badan terkait dilingkungan Pemprov kalteng, 5 perusahan sawit anggota RSPO, kelompok akademisi 2 lembaga, kelompok masyarkat 5 orang, dan kelompok mahasiswa 3 lembaga.
”Karena harapannya kegiatan ini dapat tersosialisasi dengan baik ke publik, baik di tingkan lokal mapun nasional. Sesuai dengan permintaan Walhi, Radar Sampit juga mengundang kelompok pers dari 19 media cetak dan elektronik, local mapun nasional,” jelas Ajid.
Dia menambahkan kegiatan tersebut dilaksanakan, Sabtu (12/9) di Hotel Dandang Tingang, Palangka Raya, pukul 15.00-18.00 Wib di Hotel Dandang Tingang, Palangka Raya, sekaligus dirangkaikan dengan buka puasa bersama. Dengan menghadirkan narasumebr dari Walhi Kalteng, Sawit Watch Bogor, Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalteng, Perusahaan Anggota RSPO dan Akademisi.
“Sayangnya hingga sampai hari ini Radar Sampit sebagai EO belum mendapat konfirmasi terakhir dari narasumber perusahan anggota RSPO, sedangkan narasumber yang lainnya sudah menyatakan kesiapannya,” pungkas Ajid. (*/Radar Sampit)

Tidak ada komentar: