Hadiri Rapat Evaluasi Kabupaten Tertinggal
Laporan: Alfrid U
PALANGKA RAYA-Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustin Teras Narang dibuat jengkel dengan dua bupati yang mangkir dari undangan untuk mengevaluasi kabupaten tertinggal. Gara-gara mewakilkan undangan kepada wakilnya, dua Wakil Bupati, yakni Wakil Bupati (Wabup) Seruyan Tarwidi Tamasaputra dan Wabup Pulang pisau (Pulpis) Eddy Pratowo kena getahnya.
Keduanya tidak tidak diperbolehkan mengikuti rapat lantaran hadir tidak sesuai undangan. “Di surat undangan, saya menyatakan bahwa yang hadir harus bupati. Yang namanya harus, maka tidak boleh diwakili, maka wajar kedua Wabup kita minta jangan masuk ruangan rapat,” tandas Teras, saat membuka rapat di Palangka Raya, Rabu (6/1).
Tarwidi dan Eddy memang sempat masuk ruangan sebelum rapat dimulai. Namun atas perintah gubernur, protocol gubernur meminta keduanya keluar dari ruang rapat.Teras Menegaskan, kehadiran bupati pada acara itu sangat penting. Sebab, secara hukum yang bertanggungjawab terhadap daerah adalah kepala daerah.
Mengingat rapat, menyangkut masalah strategis daerah yang harus diperhatikan, oleh karena itu tidak boleh diwakilkan. “Di UUD 45 juga tegas menyebutkan bahwa kepala daerah, baik gubernur, bupati/wakilota dipilih secara demokratis, artinya sebagai penanggungjawab sepenuhnya adalah kepala daerah,” tegasnya.
Teras mengaku tak mendapat pemberitahuan terkait ketidakhadiran kedua kepala daerah itu. Padahal, sesuai aturan bupati/walikota yang pergikeluar daerah harus ijin terlebih dulu ke gubernur.
“Saya saja kalau presiden menghubungi saya hari ini untuk hadir besok di Jakarta, besok pagisaya sudah ada disana, karena prinsip kepala daerah, jika berada diluar tempat (wilayah) harus ijin. Jadi, kalau alasan (bupati Pulang Pisau dan Seruyan) keluar kota semestinya ada pemberitahuan kepada saya,” imbuhnya.
Dikemukannya, kejadian tersebut merupakan pelajaran berharga bagi kepala daerah, bukan hanya bagi Kalteng, tapi untuk Indonesia, bahwa apabila dalam surat undangan tak boleh diwakili tu, artinya harus ditaati.
Dari sumber yang dapat dipercaya. Dua Wabup tersebut hadir mewakili Bupati Pulang Pisau H Achmad Amur dan Bupati Seruyan Darwan Ali. Keduanya termasuk tujuh bupati yang diundang dalam rapat itu, yakni, Bupati Lamandau Marukan, Bupati Sukamara Ahmad Dirman, Bupati Katingan Duwel Rawing, Bupati Gunung Mas Hambit Bintih, dan Bupati Barito Selatan Baharudin Lisa.
Sementara itu, Kepala Bagian Protokol Setda Kalteng, Agus Siswadi mengatakan, dalam surat gubernur Kalteng nomor 005/1739/VI/Bapp tanggal 31 Desember jelas menyebutkan bahwa acara itu tidak dapat diwakilkan. “Begitu ada yang bupati diwakilkan, kita saja yang menterjemahnya. Kalau memang perintah beliau tak bisa diwakilkan, tak bisa ikut rapat,” katanya.
Diungkapkan Agus, dari informasi yang diterimanya, Bupati Pulang Pisau dan Seruyan berhalangan hadir karena berada di luar daerah. “Bupati Pulang Pisau hari ini baru pulang ke daerahnya, sementara Darwan (Bupati Seruyan) hari ini baru tiba disini (Palangka Raya),” jelasnya.
Bupati Amur Minta Maaf
MENDAPAT kabar tidak mengenakan dari Wakil Bupati Eddy Pratowo. Bupati Pulang Pisau Achmad Amur langsung menelepon Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang menyampaikan permintaan maaf kepada gubernur.
Permintaan maaf tersebut langsung disampaikannya melalui telepon. Kepada gubernur Achmad Amur menjelaskan kenapa ia tidak hadir dalam rapat evaluasi daerah tertinggal tersebut. Pasalnya, pada waktu yang bersamaan Achmad Amur secara mendadak harus mengantar isterinyauntuk melakukan check-up kesehatan di RS Harapan Kita Jakarta, sebagai tindak lanjut pemeriksaan sebelumnya.
Kepada sejumlah wartawan, melalui telepon, menceritakan dari sejak hari Senin (4/1) lalu, istrinya merasa tidak nyaman yang kemungkinan disebabkan karena kelelahan. Sehingga langsung dibawa ke Jakarta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan lagi sehubungan dengan riwayat penyakit jantung yang diidapnya.
“Karena rapat ini sipatnya penting. Makanya saya menugaskan Bapak Edy Pratowo menghadirinya mewakili saya. Atas ketidak hadiran saya, saya sudah minta maaf dengn gubernur,” ucap Achmad Amur.
Ditegaskan Achmad Amur, sesuai dengan Pasal 26 Undang-Undang, Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, apabila bupati berhalangan hadir maka dapat diwakilkan kepada Wabup. Karena Wabup memiliki tugas dan kewenangan yang sama disaat kepala daerah berhalangan hadir. “Saya tidak menyangka kalau yang diminta hadir harus Bupati selaku Kepala Daerah, oleh karena itu saya menyampaikan permohonan maaf keda gubernur,” pungkasnya. (*/Radar Sampi)
10 Jan 2010
Flu Burung Kembali Serang Kalteng
Laporan: Alfrid U
PALANGKA RAYA-Kabar mengejutkan di awal tahun baru. Setelah Kota Palangka Raya dinyatakan keadaan luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD), kini menyusul penemuan virus flu burung (Avian Influensa/AI) di Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, dan Kota Palangka Raya.
“Hasil tes laboratorium sampel unggas baru kami terima Senin kemarin (4/1) yang menyatakan ribuan unggas yang mati tersebut positif terjangkit flu burung,” kata Wakil Gubernur Kalteng Achmad Diran, di Palangka Raya, Selasa (5/1).
Dikemukakan Achmad Diran, hasil tes itu berdasarkan hasil uji laboratorium yang dikeluarkan oleh Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). “Dari hasil uji sample menyatakan potitif flu burung,” ungkap mantan Bupati Barito Selatan ini.
Pemerintah provinsi menduga, ribuan unggas yang mati tersebut tertular penyakit flu burung dari wilayah Banjarmasin, Kalsel, yang sebelumnya juga telah dinyatakan positif terserang penyakit unggas mematikan itu.
Terkait dengan dugaan tersebut, ucap Achmad Diran, Pemerintah Provinsi Kalteng segera menutup semua pintu masuk lalulintas perdagangan unggas di wilayah itu dengan mendiriksan pos pemeriksaan di wilayah perbatasan dengan Kalsel.
Dikemukakannya, laporan terakhir jumlah unggas di Kapuas yang mati mendadak yakni ayam bukan ras (buras) sebanyak 6.298 ekor dan ayam potong 1.353 ekor, sedangkan di Pulang Pisau sebanyak 975 ekor ayam dan Kota Palangkaraya sebanyak 29 ekor ayam. “Namun demikian hingga saat ini belum ada laporan infeksi yang menyerang ke manusia,” bebernya.
Guna mengangtisipasi meluasnya virus flu burung di wilayah Kalteng, ucap Achmad Diran, saat ini Pemerintah Provinsi Kalteng juga telah mengirimkan surat kepada bupati/wali kota yang wilayahnya terjangkit flu burung agar sedini mungkin melakukan langkah antisipasi dan penanggulangan dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakatnya.
“Saya juga telah memerintahkan kepada Dinas Pertanian dan Peternakan Kalteng untuk melakukan penutupan atau isolasi perdagangan unggas antardaerah yang terjangkit flu burung,” tuturnya.
Pada kesempatan yang berbeda, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Kalteng Tute Lelo mengatakan, kasus flu burung di wiayah itu pertama kali ditemukan pada akhir 2003 di Kabupaten Kotawaringin Timur.
“Kasus penyebaran virus flu burung pertama itu menyebabkan jumlah kematian unggas sebanyak 33.148 ekor, namun telah dapat ditangani dengan baik sehingga pada Maret 2004 dan sepanjang 2005-2006 tidak ada kasus flu burung baru ditemukan,” jelas Tute.
Lebih lanjut dijelaskannya, kasus flu burung kembali muncul pada awal 2007 di Kabupaten Kotawaringin Barat dengan kematian unggas sebanyak 28.324 ekor. Kasus ini juga dapat ditangani dengan baik sehingga sampai sekarang tidak ditemukan lagi kasus serupa.
“Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota tengah mempersiapkan diri untuk pembebasan Kalteng dari virus flu burung. Penyebab awal penyakit masuk adalah ternak yang didatangkan dari luar dan kami berupaya mencegah masuknya ternak yang terinfeksi virus itu dengan memperkuat pengawasan,” jelasnya. (*/Radar Sampit)
PALANGKA RAYA-Kabar mengejutkan di awal tahun baru. Setelah Kota Palangka Raya dinyatakan keadaan luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD), kini menyusul penemuan virus flu burung (Avian Influensa/AI) di Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, dan Kota Palangka Raya.
“Hasil tes laboratorium sampel unggas baru kami terima Senin kemarin (4/1) yang menyatakan ribuan unggas yang mati tersebut positif terjangkit flu burung,” kata Wakil Gubernur Kalteng Achmad Diran, di Palangka Raya, Selasa (5/1).
Dikemukakan Achmad Diran, hasil tes itu berdasarkan hasil uji laboratorium yang dikeluarkan oleh Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). “Dari hasil uji sample menyatakan potitif flu burung,” ungkap mantan Bupati Barito Selatan ini.
Pemerintah provinsi menduga, ribuan unggas yang mati tersebut tertular penyakit flu burung dari wilayah Banjarmasin, Kalsel, yang sebelumnya juga telah dinyatakan positif terserang penyakit unggas mematikan itu.
Terkait dengan dugaan tersebut, ucap Achmad Diran, Pemerintah Provinsi Kalteng segera menutup semua pintu masuk lalulintas perdagangan unggas di wilayah itu dengan mendiriksan pos pemeriksaan di wilayah perbatasan dengan Kalsel.
Dikemukakannya, laporan terakhir jumlah unggas di Kapuas yang mati mendadak yakni ayam bukan ras (buras) sebanyak 6.298 ekor dan ayam potong 1.353 ekor, sedangkan di Pulang Pisau sebanyak 975 ekor ayam dan Kota Palangkaraya sebanyak 29 ekor ayam. “Namun demikian hingga saat ini belum ada laporan infeksi yang menyerang ke manusia,” bebernya.
Guna mengangtisipasi meluasnya virus flu burung di wilayah Kalteng, ucap Achmad Diran, saat ini Pemerintah Provinsi Kalteng juga telah mengirimkan surat kepada bupati/wali kota yang wilayahnya terjangkit flu burung agar sedini mungkin melakukan langkah antisipasi dan penanggulangan dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakatnya.
“Saya juga telah memerintahkan kepada Dinas Pertanian dan Peternakan Kalteng untuk melakukan penutupan atau isolasi perdagangan unggas antardaerah yang terjangkit flu burung,” tuturnya.
Pada kesempatan yang berbeda, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Kalteng Tute Lelo mengatakan, kasus flu burung di wiayah itu pertama kali ditemukan pada akhir 2003 di Kabupaten Kotawaringin Timur.
“Kasus penyebaran virus flu burung pertama itu menyebabkan jumlah kematian unggas sebanyak 33.148 ekor, namun telah dapat ditangani dengan baik sehingga pada Maret 2004 dan sepanjang 2005-2006 tidak ada kasus flu burung baru ditemukan,” jelas Tute.
Lebih lanjut dijelaskannya, kasus flu burung kembali muncul pada awal 2007 di Kabupaten Kotawaringin Barat dengan kematian unggas sebanyak 28.324 ekor. Kasus ini juga dapat ditangani dengan baik sehingga sampai sekarang tidak ditemukan lagi kasus serupa.
“Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota tengah mempersiapkan diri untuk pembebasan Kalteng dari virus flu burung. Penyebab awal penyakit masuk adalah ternak yang didatangkan dari luar dan kami berupaya mencegah masuknya ternak yang terinfeksi virus itu dengan memperkuat pengawasan,” jelasnya. (*/Radar Sampit)
Inflasi Palangka dan Sampit Capai Rekor Terendah
Laporan: Alfrid U
PALANGKA RAYA- Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kalteng Dantes Simbolon, mengatakan laju inflasi tahun kalender di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), pada tahun 2009 lalu mencapai angka terendah dalam enam tahun terakhir, yakni sebesar 1,39 persen.
Kendati demikian, penurunan inflasi tahun lalu terjadi hampir merata di semua daerah termasuk di Kota Palangka Raya dan Sampit, yang menjadi dua kota indeks harga konsumen di provinsi itu. “Dalam catatan kami itu merupakan rekor inflasi terendah di Kalimantan Tengah sejak 2004 lalu,” ungkapnya di Palangka Raya, baru-baru ini.
Menurut pria asal Sumatra Utara ini, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, capaian inflasi tahun 2009 menurun tajam yakni secara berurutan sejak tahun 2004 inflasi sebesar 7,25 persen, tahun 2005 sebesar 12,12 persen, tahun 2006 sebesar 7,72 persen, tahun 2007 sebesar 7,96 persen, dan tahun 2008 sebesar 11,65 persen.
“Kota Palangka Raya pada Desember tahun lalu tercatat mengalami inflasi sebesar 0,34 persen, yang didorong kenaikan harga sejumlah komoditas seperti beras, ikan baung, rokok kretek filter, ikan gabus dan telur ayam ras,” beber Dantes.
“Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga dengan andil deflasi tertinggi selama periode yang sama yakni daging ayam ras, kacang panjang, jeruk, ketimun, dan ikan patin,” timpalnya.
Lebih lanjut dikemukakannya, dari tujuh kelompok pengeluaran, sebanyak empat kelompok mengalami kenaikan indeks harga, yakni kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau, sebesar 0,83 persen, kelompok sandang 0,55 persen, kelompok bahan makanan 0,48 persen, dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,1 persen.
Sedangkan satu kelompok pengeluaran lain yakni pendidikan, rekrasi, dan olahraga mengalami penurunan harga sebesar 0,24 persen, sedangkan dua kelompok lain yakni kesehatan dan transpor, komunikasi, dan jasa keuangan tidak mengalami perubahan harga.
Kondisi berbeda terjadi di Sampit, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur, ucapnya, pada Desember lalu justru mencatat deflasi sebesar minus 0,43 persen, dan laju inflasi tahun kalender 2009 sebesar 2,85 persen,” lanjutnya.
“Deflasi di Sampit itu antara lain dipicu penurunan harga daging ayam ras, ketimun, cabe rawit, bandeng, dan tenggiri, sedangkan harga komoditas yang mengalami kenaikan diantaranya beras, gula pasir, kayu balokan, bawang merah, dan baung,” ucapnya.
Dantes menjelaskan, selain Bank Indonesia, BPS Kalteng juga ikut menghitung nilai inflasi Provinsi Kalteng yang merupakan gabungan Palangka Raya dan Sampit. Pada Desember lalu ditetapkan sebesar 0,003 persen dengan nilai indeks harga konsumen 116,88 persen. “Laju inflasi tahun kalender di Kalteng tercatat lebih tinggi dari inflasi Palangkaraya yakni 2,2 persen karena tambahan inflasi dari Sampit,” jelasnya. (*/Radar Sampit)
PALANGKA RAYA- Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kalteng Dantes Simbolon, mengatakan laju inflasi tahun kalender di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), pada tahun 2009 lalu mencapai angka terendah dalam enam tahun terakhir, yakni sebesar 1,39 persen.
Kendati demikian, penurunan inflasi tahun lalu terjadi hampir merata di semua daerah termasuk di Kota Palangka Raya dan Sampit, yang menjadi dua kota indeks harga konsumen di provinsi itu. “Dalam catatan kami itu merupakan rekor inflasi terendah di Kalimantan Tengah sejak 2004 lalu,” ungkapnya di Palangka Raya, baru-baru ini.
Menurut pria asal Sumatra Utara ini, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, capaian inflasi tahun 2009 menurun tajam yakni secara berurutan sejak tahun 2004 inflasi sebesar 7,25 persen, tahun 2005 sebesar 12,12 persen, tahun 2006 sebesar 7,72 persen, tahun 2007 sebesar 7,96 persen, dan tahun 2008 sebesar 11,65 persen.
“Kota Palangka Raya pada Desember tahun lalu tercatat mengalami inflasi sebesar 0,34 persen, yang didorong kenaikan harga sejumlah komoditas seperti beras, ikan baung, rokok kretek filter, ikan gabus dan telur ayam ras,” beber Dantes.
“Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga dengan andil deflasi tertinggi selama periode yang sama yakni daging ayam ras, kacang panjang, jeruk, ketimun, dan ikan patin,” timpalnya.
Lebih lanjut dikemukakannya, dari tujuh kelompok pengeluaran, sebanyak empat kelompok mengalami kenaikan indeks harga, yakni kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau, sebesar 0,83 persen, kelompok sandang 0,55 persen, kelompok bahan makanan 0,48 persen, dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,1 persen.
Sedangkan satu kelompok pengeluaran lain yakni pendidikan, rekrasi, dan olahraga mengalami penurunan harga sebesar 0,24 persen, sedangkan dua kelompok lain yakni kesehatan dan transpor, komunikasi, dan jasa keuangan tidak mengalami perubahan harga.
Kondisi berbeda terjadi di Sampit, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur, ucapnya, pada Desember lalu justru mencatat deflasi sebesar minus 0,43 persen, dan laju inflasi tahun kalender 2009 sebesar 2,85 persen,” lanjutnya.
“Deflasi di Sampit itu antara lain dipicu penurunan harga daging ayam ras, ketimun, cabe rawit, bandeng, dan tenggiri, sedangkan harga komoditas yang mengalami kenaikan diantaranya beras, gula pasir, kayu balokan, bawang merah, dan baung,” ucapnya.
Dantes menjelaskan, selain Bank Indonesia, BPS Kalteng juga ikut menghitung nilai inflasi Provinsi Kalteng yang merupakan gabungan Palangka Raya dan Sampit. Pada Desember lalu ditetapkan sebesar 0,003 persen dengan nilai indeks harga konsumen 116,88 persen. “Laju inflasi tahun kalender di Kalteng tercatat lebih tinggi dari inflasi Palangkaraya yakni 2,2 persen karena tambahan inflasi dari Sampit,” jelasnya. (*/Radar Sampit)
Langganan:
Postingan (Atom)